Halaman

Senin, 21 Oktober 2013

INI CERPEN


nih cerpen karyaku.. enjoy :) 
Si Penjual Iwak Kali
Bukankah kehidupan ini membutuhkan kesabaran dan ketabahan? Manusia memang diciptakan untuk berusaha, tabah dan selalu tegar menghadapi semua liku kehidupan ini. Mbah mitro putri. Yah, dialah sesosok wanita tua yang membuatku belajar mengerti arti kehidupan ini. Keringat membanjiri tubuhnya yang lesu dan layu seorang wanita tua paru baya memakai baju berwarna coklat dan setiap kali ia nampakan diri hanya itu saja baju yang ia kenakan, wanita tua berambut putih kusut, berparas sayu dengan kriputan kriputan tegas di wajahnya mengayuh sepeda  janki  tua yang hampir  tak layak pakai untuk menawarkan beberapa iwak kali kepada tetangga-tetangganya.
 Tidak jarang ia mendapatkan imbalan yang tidak sebanding dengan usaha mencari ikan di kali, yang harus rela basah-basahan dengan melawan arus deras sebuah kali. Itu saja belum tentang masalah kekuatan tulangnya yang sudah mulai menua, tidak jarang kakinya berdarah karena terkena bebatuan kali. Padahal, tetangganya adalah seorang pemburu buaya yang juga mencari anak-anak buaya di kali tersebut. Namun, sesosok itu tidak pernah merasa takut ia tetap saja mencari ikan di kali dengan jaring kecil yang selalu ia bawa. Di benaknya hanyalah mencari ikan untuk hidupnya dan menjajakanya dengan cara berkeliling menggunakan janki reyotnya yang berharga itu.
Mbah Marto memang terkenal sebagai seorang yang tidak pernah mengeluh pada ilahi mengenai kehidupan ini. Menurutnya hidup itu ibarat roda berputar ia meyakini bahwa hidupnya tidak akan selalu seperti ini terus, denga berdoa dan selalu berusaha maka suatu saat manusia akan mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan yang abadi di dunia ini.

“ Iwak kali.. iwak kali buu..  bunee..”. Triakan  wanita tua menawarkan daganganya.

Tak ada seorangpun yang mencoba menawar daganganya itu. Hingga siang hari, ketika aku sedang menonton tv di ruang tamu.

“Took..took..”
“Kulo nuwun buu..”.  suara  wanita  mengetuk pintu rumah dengan sangat pelan.
“Enggeh.. sekedap bu” . Ujarku sambil berjalan membuka pintu.
“Dek, ibuknya ada?”. tanyanya
“Oh wonten buk, sebentar”. Jawabku lalu masuk memanggilkan ibu.
“Pripun mbokdhe?”. Tanya ibuku
“Niki buu iwak kali, murah..” wanita tua itu menawarkan dagangan kepada  ibu saya.
“Pintenan?  Niki iwak nopo?”. Ujar  ibu.
“Ngeh, niki wader enak bu garing.. seplastik 3 ribu  kemawon” jawab wanita paru baya itu.
“Ngeh niku kulo tumbas kabeh mawon bu” ujar ibu dan mengeluarkan uang.
“Aduh bu, boten gadah kembalian e, sesok mawon artha ne mboten nopo2” ujar wanita itu.
“Ngeh mbokde, sesok kulo tak mriko” jawab ibu
“Nuwun.. sampun” ujar  wanita tua itu dan pamit pulang.

Senja maulai menampak, wanita tua itu pulang dengan hati lega karena daganganya sudah habis dibeli, walaupun ia tak membawa uang hasil penjualan hari itu.
Hari itu, saat jam dinding menunjuk pukul 6:00 am. Suara pak Pon dengan toa masjid sebrang jalan yang lumayan dekat dengan rumahku terdengar sangat lantang.
Innalilahi wainaillahi roji’un.. innalillahi wainalillahi roji’un.. innalilahi wainalillahi roji’un.. sudah berpulang ke rahmat Allah SWT  Bapak Mitro pada pukul 12:00 am.
Sebut saja, mbah Mitro. Ia adalah suami penjual iwak peyek itu yang sudah mengidap sakit jantung kronis yang sangat lama. Alasan itulah yang membuat wanita tua penjual iwak kali ini bekerja banting tulang demi dapat mengobati penyakit suami tercintanya itu yang kini sudah tiada. Wajah kriput yang tak berdaya dengan helaian nafas yang hampir terputus-putus itu mengatakan keikhlasanya pada Allah yang sudah mengambil kembali sesosok pendamping hidupnya selama berpuluh-puluh tahun itu. Eluh tangis membanjiri pipinya, mulutnya terus berdzikir menyebut kebesaran Sang Maha Pencipta. Ibuku terlihat memeluk erat tubuhnya dan berbisik sesuatu di telinganya.

“Sabar.. ikhlaskan..” Ibuku berbisik.
“Enggeh bu, maturnuwun.. Ya Allah Gusti Pangeran.. Astagfirullah.. Astagfirullah”, berkata wanita tua itu dengan mengelus dadanya.

Waktu semakin berjalan, rumahnya yang sederhana itu dipenuhi pelayat untuk mendoakan dan mengantarkan suaminya ketempat peristirahatan terakhir. Wanita tu itu hanya duduk dengan pandangan kosong. Tampak seorang wanita seumuran dengan ibuku sedang memeluknya dengan erat dan menciumi pipinya dengan peluh tangis.

“Ya Allah bu, maafkan anakmu ini yang tidak mengetahui keaadan bapak selama ini”. Anaknya memohon ampun.
“Uwis nduk, sing uwis yo uwis.. bapak sudah tenang disana.” Ujar wanita itu tegar.
“Bapakk.. mohon maaf bapak..” Anaknya mencium kening mbah Mitro.

 Ternyata wanita itu ialah anaknya yang bekerja menjadi tkw di Malaysia yang hendak pulang karena rindu dengan ayahnya. Namun, takdir berkata lain ketika ia pulang ke Indonesia ayahnya sudah dipanggil Allah.
Matahari tellihat berada tepat diatas kepala, pak ustad telah melantunkan doa penghantar mbah mitro ke pemakaman, dengan hati yang ikhlas dan tabah si wanita penjual iwak kali itu mencium kening mbah mitro untuk terakhir kali. Ia berjalan di belakang keranda bersama anaknya. Suasa haru duka menyelimuti perjalanannya menghantar suami tercinta menghadap Sang Illahi.
Pagi itu, Aku tak melihat wanita si penjual iwak kali itu menawarkan daganganya di daerah rumahku. Ketika aku berbelanja sayur di warung samping rumahnya, aku tak melihat ada seorangpun yang berada dirumah itu. Rumahnya nampak seperti rumah tanpa penghuni yang menakutkan. Entah kemana wanita itu pergi.

“Bu, itu rumah mbah mitro kok sepi banget, pada pergi ya?” Tanyaku penasaran kepada ibu warung.
“Saya ndaktau nduk, tapi kemarin saya lihat mbah mitro putri sama anaknya itu membawa tas, mereka dijemput mobil hitam. Gatau itu mau kemana, tanpa pamit tetangga juga kok” Jawab ibu warung
“Oalah, makasih bu informasinya, ini saya sudah sayurnya bu, jadi berapa semuanya?” ujarku kepada ibu warung.
“Sama-sama nduk, 10ribu.” Jawab ibu warung.
“Mari Bu, duluan yaa”. Aku kepada para pembeli di warung itu.

Hari berganti hari, saat aku pulang sekolah aku melihat rumahnya sudah berpenghuni kembali. Aku pikir mbah mitro putri sudah pulang, aku hendak membeli iwak kalinya. Namun, saat aku mengetuk pintunya seorang asing keluar.

“Ya, mau cari siapa Mbak?” Ujar seseorang itu.
“Maaf, Mbah Mitronya ada?” Ujarku.
“Mbah Mitro pemilik rumah ini yang dulu ya mbak?” jawabnya.
“Maksudnya?” Heranku.
“Jadi beginilho mbak, rumah ini sudah dijual kepada saya. Dan kata mbah Mitro itu uangnya akan digunakan untuk pergi ke Malaysia dengan anaknya menjadi tkw disana.” Jawab seseorang itu dengan lengkap.
“O begitu to? Trimakasih pak, maaf sudah mengganggu” ujarku berpamitan.
“Sama-sama, tidak masalah mbak.” Jawab pemilik rumah itu.
“Jadi, penjual iwak kali itu sekarang tidak ada lagi di kampungku. Tidak ada lagi penjual setegar dan sehebat dia. Semoga dia bahagia dan sukses di Malaysia bersama anaknya”.

Batinku berbisik bersama angin yang berhembus seiring aku berjalan menuju rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar