nih cerpen karyaku.. enjoy :)
Bukankah kehidupan ini membutuhkan
kesabaran dan ketabahan? Manusia memang diciptakan untuk berusaha, tabah dan
selalu tegar menghadapi semua liku kehidupan ini. Mbah mitro putri. Yah, dialah
sesosok wanita tua yang membuatku belajar mengerti arti kehidupan ini. Keringat
membanjiri tubuhnya yang lesu dan layu seorang wanita tua paru baya memakai
baju berwarna coklat dan setiap kali ia nampakan diri hanya itu saja baju yang
ia kenakan, wanita tua berambut putih kusut, berparas sayu dengan kriputan
kriputan tegas di wajahnya mengayuh sepeda
janki tua yang hampir tak layak pakai untuk menawarkan beberapa
iwak kali kepada tetangga-tetangganya.
Tidak jarang ia mendapatkan imbalan yang tidak
sebanding dengan usaha mencari ikan di kali, yang harus rela basah-basahan
dengan melawan arus deras sebuah kali. Itu saja belum tentang masalah kekuatan
tulangnya yang sudah mulai menua, tidak jarang kakinya berdarah karena terkena
bebatuan kali. Padahal, tetangganya adalah seorang pemburu buaya yang juga
mencari anak-anak buaya di kali tersebut. Namun, sesosok itu tidak pernah
merasa takut ia tetap saja mencari ikan di kali dengan jaring kecil yang selalu
ia bawa. Di benaknya hanyalah mencari ikan untuk hidupnya dan menjajakanya
dengan cara berkeliling menggunakan janki reyotnya yang berharga itu.
Mbah Marto memang terkenal sebagai
seorang yang tidak pernah mengeluh pada ilahi mengenai kehidupan ini.
Menurutnya hidup itu ibarat roda berputar ia meyakini bahwa hidupnya tidak akan
selalu seperti ini terus, denga berdoa dan selalu berusaha maka suatu saat
manusia akan mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan yang abadi di dunia ini.
“
Iwak kali.. iwak kali buu.. bunee..”.
Triakan wanita tua menawarkan
daganganya.
Tak
ada seorangpun yang mencoba menawar daganganya itu. Hingga siang hari, ketika
aku sedang menonton tv di ruang tamu.
“Took..took..”
“Kulo nuwun buu..”.
suara
wanita mengetuk pintu rumah
dengan sangat pelan.
“Enggeh..
sekedap bu” . Ujarku sambil berjalan membuka pintu.
“Dek, ibuknya
ada?”. tanyanya
“Oh wonten
buk, sebentar”. Jawabku lalu masuk memanggilkan ibu.
“Pripun
mbokdhe?”. Tanya ibuku
“Niki buu iwak kali, murah..” wanita
tua itu menawarkan dagangan kepada ibu
saya.
“Pintenan? Niki iwak nopo?”. Ujar ibu.
“Ngeh, niki wader enak bu garing.. seplastik 3 ribu kemawon” jawab wanita paru baya itu.
“Ngeh niku kulo tumbas kabeh mawon bu” ujar ibu dan
mengeluarkan uang.
“Aduh bu, boten gadah kembalian e, sesok
mawon artha ne mboten nopo2” ujar wanita itu.
“Ngeh mbokde, sesok kulo tak mriko” jawab ibu
“Nuwun.. sampun” ujar
wanita tua itu dan pamit pulang.
Senja
maulai menampak, wanita tua itu pulang dengan hati lega karena daganganya sudah
habis dibeli, walaupun ia tak membawa uang hasil penjualan hari itu.
Hari
itu, saat jam dinding menunjuk pukul 6:00 am. Suara pak Pon dengan toa masjid
sebrang jalan yang lumayan dekat dengan rumahku terdengar sangat lantang.
Innalilahi
wainaillahi roji’un.. innalillahi wainalillahi roji’un.. innalilahi
wainalillahi roji’un.. sudah berpulang ke rahmat Allah SWT Bapak Mitro pada pukul 12:00 am.
Sebut
saja, mbah Mitro. Ia adalah suami penjual iwak peyek itu yang sudah mengidap
sakit jantung kronis yang sangat lama. Alasan itulah yang membuat wanita tua
penjual iwak kali ini bekerja banting tulang demi dapat mengobati penyakit
suami tercintanya itu yang kini sudah tiada. Wajah kriput yang tak berdaya
dengan helaian nafas yang hampir terputus-putus itu mengatakan keikhlasanya
pada Allah yang sudah mengambil kembali sesosok pendamping hidupnya selama berpuluh-puluh
tahun itu. Eluh tangis membanjiri pipinya, mulutnya terus berdzikir
menyebut kebesaran Sang Maha Pencipta. Ibuku terlihat memeluk erat tubuhnya dan
berbisik sesuatu di telinganya.
“Sabar.. ikhlaskan..” Ibuku berbisik.
“Enggeh bu, maturnuwun.. Ya Allah Gusti
Pangeran.. Astagfirullah.. Astagfirullah”, berkata wanita tua itu dengan
mengelus dadanya.
Waktu
semakin berjalan, rumahnya yang sederhana itu dipenuhi pelayat untuk mendoakan
dan mengantarkan suaminya ketempat peristirahatan terakhir. Wanita tu itu hanya
duduk dengan pandangan kosong. Tampak seorang wanita seumuran dengan ibuku
sedang memeluknya dengan erat dan menciumi pipinya dengan peluh tangis.
“Ya Allah bu, maafkan anakmu ini yang
tidak mengetahui keaadan bapak selama ini”. Anaknya memohon ampun.
“Uwis nduk,
sing uwis yo uwis.. bapak
sudah tenang disana.” Ujar
wanita itu tegar.
“Bapakk.. mohon maaf bapak..” Anaknya mencium kening mbah
Mitro.
Ternyata wanita itu ialah anaknya yang bekerja
menjadi tkw di Malaysia yang hendak pulang karena rindu dengan ayahnya. Namun,
takdir berkata lain ketika ia pulang ke Indonesia ayahnya sudah dipanggil
Allah.
Matahari
tellihat berada tepat diatas kepala, pak ustad telah melantunkan doa penghantar
mbah mitro ke pemakaman, dengan hati yang ikhlas dan tabah si wanita penjual
iwak kali itu mencium kening mbah mitro untuk terakhir kali. Ia berjalan di
belakang keranda bersama anaknya. Suasa haru duka menyelimuti perjalanannya
menghantar suami tercinta menghadap Sang Illahi.
Pagi
itu, Aku tak melihat wanita si penjual iwak kali itu menawarkan daganganya di
daerah rumahku. Ketika aku berbelanja sayur di warung samping rumahnya, aku tak
melihat ada seorangpun yang berada dirumah itu. Rumahnya nampak seperti rumah
tanpa penghuni yang menakutkan. Entah kemana wanita itu pergi.
“Bu, itu rumah mbah mitro kok sepi
banget, pada pergi ya?” Tanyaku penasaran kepada ibu warung.
“Saya ndaktau nduk, tapi kemarin saya
lihat mbah mitro putri sama anaknya itu membawa tas, mereka dijemput mobil
hitam. Gatau itu mau kemana, tanpa pamit tetangga juga kok” Jawab ibu warung
“Oalah, makasih bu informasinya, ini saya
sudah sayurnya bu, jadi berapa semuanya?” ujarku kepada ibu warung.
“Sama-sama nduk, 10ribu.” Jawab ibu warung.
“Mari Bu, duluan yaa”. Aku kepada para pembeli di warung
itu.
Hari
berganti hari, saat aku pulang sekolah aku melihat rumahnya sudah berpenghuni
kembali. Aku pikir mbah mitro putri sudah pulang, aku hendak membeli iwak
kalinya. Namun, saat aku mengetuk pintunya seorang asing keluar.
“Ya, mau cari siapa Mbak?” Ujar seseorang itu.
“Maaf, Mbah Mitronya ada?” Ujarku.
“Mbah Mitro pemilik rumah ini yang dulu ya mbak?”
jawabnya.
“Maksudnya?” Heranku.
“Jadi beginilho mbak, rumah ini sudah
dijual kepada saya. Dan kata mbah Mitro itu uangnya akan digunakan untuk pergi
ke Malaysia dengan anaknya menjadi tkw disana.” Jawab seseorang itu dengan
lengkap.
“O begitu to? Trimakasih pak, maaf sudah mengganggu”
ujarku berpamitan.
“Sama-sama, tidak masalah mbak.” Jawab pemilik rumah itu.
“Jadi, penjual iwak kali itu sekarang
tidak ada lagi di kampungku. Tidak ada lagi penjual setegar dan sehebat dia.
Semoga dia bahagia dan sukses di Malaysia bersama anaknya”.
Batinku
berbisik bersama angin yang berhembus seiring aku berjalan menuju rumah.